Psikolog dari Pihak Jessica: Pemeriksaan Psikologi Harus Dilakukan di Tempat Netral, Bukan Kantor Polisi

Solid Gold

Pemeriksaan psikologis terhadap seseorang harus dilakukan di tempat yang netral | Solid Gold

“Ada lagi syaratnya, tempat pemeriksaan harus netral. Kalau di kantor polisi itu, bagaimana mungkin orang akan nyaman dalam situasi menekan. Itu menekan kan,” ujar Dewi saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (19/9/2016).

Psikolog dari Universitas Indonesia, Dewi Taviana Walida Haroen, yang dihadirkan tim kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, mengatakan, pemeriksaan psikologis terhadap seseorang harus dilakukan di tempat yang netral.

Sebelum menjadi tersangka, pemeriksaan psikologi terhadap Jessica pernah dilakukan oleh psikolog klinis Antonia Ratih Andjayani di Mapolda Metro Jaya.

Jika pemeriksaan psikologis dilakukan di tempat yang tidak netral dan orang yang diperiksa dalam keadaan tertekan, dikhawatirkan hasilnya tidak akan obyektif.

Syarat pemeriksaan di tempat yang netral itu berkaitan dengan syarat pertama, yakni orang yang diperiksa tidak boleh dalam keadaan tertekan.

Dalam kasus ini, Mirna meninggal setelah meminum es kopi vietnam yang dipesan oleh Jessica di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Rabu (6/1/2016). Jessica menjadi terdakwa kasus tersebut. JPU mendakwa Jessica dengan dakwaan tunggal, yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

“Hasilnya bias, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, seharusnya data dan prosedurnya tepat sehingga hasilnya juga dipertanggungjawabkan,” kata Dewi.

Dialog Pengacara Jessica & Saksi Ahli Ihwal Kelaziman Menaruh Tas | Solid Gold

Dalam keterangannya, Dewi memberikan penjelaskan mengenai perilaku Jessica yang meletakkan paper bag-nya di atas meja nomor 52 di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat saat berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada 6 Januari 2016 silam.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali menggelar sidang kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Pada sidang edisi ke-22 ini, tim kuasa hukum Jessica Kumala Wongso menghadirkan saksi ahli Psikologi dari Universitas Indonesia (UI), Dewi Taviana Walida‎.

“Contohnya saya pribadi pak, bapak lihat, tas saya letakan di mana? Kenapa saya letakkan di sini kira-kira?” tanya Dewi kepada Otto di PN Jakpus, Senin (19/9/2016). “Oh di meja juga ya. Supaya bisa dilihat orang lain mungkin karena harga tasnya mahal kali ya? Atau enggak karena enggak ada kursi,” jawab Otto penasaran.

Ketua tim kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan menanyakan soal perilaku Jessica saat meletakkan paper bag lantaran diduga sengaja diletakkan di atas meja untuk menghalangi pergerakan tangannya melalui kamera CCTV.

“Ya, bisa juga mungkin karena takut dicuri orang, sudah terbiasa, macam-macam pak jawabannya. Kalau kita pakai ukuran kelaziman, bisa bahaya pak,” Dewi menimpali. Keterangan tersebut membantah keterangan dari saksi ahli Sarlito, yang pernah didatangkan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ketika menaruh paper bag di atas meja seakan memberikan benteng untuk apa yang hendak dilakukan. Di situ ditaruh berjejer untuk menutupi hal yang dilakukan terhadap kopi,” Sarlito menerangkan beberapa waktu lalu.

Sebab, sebelumnya Sarlito mengatakan, bahwa gerakan meletakkan paper bag oleh Jessica di atas meja, merupakan hal yang tidak lazim. “Yang paling terlihat tidak lazim adalah saat terdakwa menaruh paper bag di atas meja sembari menunggu temannya.

Solid Gold

This entry was posted in Solid Gold and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s