Vonis Ringan Damayanti dan Pengungkapan Kasus Suap Komisi V DPR

Hukuman Damayanti jauh lebih ringan ketimbang tuntutan Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta hukuman 6 tahun penjara serta 6 bulan kurungan. Damayanti dinilai terbukti menerima suap sebesar Rp 8,1 miliar dari Direktur PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir.

PT. Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Mantan anggota Komisi V DPR RI, Damayanti Wisnu Putranti, dijatuhi hukuman 4,5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan oleh Majelis Hakim pada Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (27/9/2016).

Mantan anggota Fraksi PDI-P | PT. Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Kedua proyek tersebut diusulkan menggunakan program aspirasi anggota Komisi V DPR, dan diharapkan dapat masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (R-APBN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, tahun anggaran 2016.

Mantan anggota Fraksi PDI-P tersebut didakwa secara bersama-sama dengan anggota Komisi V lainnya, Budi Supriyanto, dan dua orang stafnya, Dessy A Edwin dan Julia Prasetyarini.

Menurut Jaksa, pemberian uang tersebut untuk menggerakkan agar Damayanti mengusulkan kegiatan pelebaran Jalan Tehoru-Laimu, dan menggerakkan agar Budi Supriyanto mengusulkan pekerjaan rekonstruksi Jalan Werinama-Laimu di Maluku.

Adapun, proyek pembangunan jalan yang diusulkan Damayanti senilai Rp 41 miliar. Sementara, proyek yang diusulkan Budi senilai Rp50 miliar.

Bukan pelaku utama | PT. Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Vonis ringan yang diterima Damayanti bukan tanpa sebab. Mantan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Brebes tersebut berstatus sebagai justice collabolator, atau saksi pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum.

Majelis Hakim menilai, Damayanti telah mengakui perbuatannya dan berterus-terang sehingga perkara hukum menjadi jelas. Keterangan Damayanti juga membuat terang mengenai adanya skenario oleh pihak-pihak tertentu di Komisi V DPR dan pejabat Kementerian PUPR, dalam rangka pengurusan persetujuan anggaran Kementerian PUPR dalam R-APBN 2016.

Pemohon adalah terdakwa yang mengakui perbuatan, serta memberi keterangan sebagai saksi dalam persidangan. Suap di Komisi V DPR. Seusai Hakim mengetuk palu, Damayanti kembali menyatakan kesiapannya untuk membantu KPK membongkar pelaku lainnya.

Hal tersebut selaras dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011, yang mensyaratkan bahwa terdakwa yang diberikan status justice collabolator haruslah bukan sebagai pelaku utama dalam perkara tindak pidana.

“Konsekuensi sebagai justice collabolator adalah membantu KPK membuka kasus di Komisi V DPR secara gamblang, sampai selesai,” ujar Damayanti seusai sidang putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin.

Dalam nota pembelaan yang disampaikan secara pribadi atau pun melalui pengacara, Damayanti mengatakan bahwa ia bukan sebagai pelaku utama dalam perkara suap terkait program aspirasi anggota DPR.

Damayanti menceritakan bahwa fee atas program aspirasi yang diusulkan kepada Kementerian PUPR merupakan skenario yang telah terjadi selama bertahun-tahun, layaknya sebuah ban berjalan yang melibatkan hampir seluruh anggota Komisi V.

Dalam kesepakatan tersebut, pimpinan Komisi V meminta agar Kementerian PUPR menyetujui usulan program aspirasi yang diajukan anggota Komisi V sebesar Rp 10 triliun. Jika tidak, menurut Damayanti, pimpinan Komisi V mengancam akan mempersulit Kementerian PUPR dalam pengusulan anggaran dalam R-APBN.

Menurut Damayanti, pembagian jatah program aspirasi dan keuntungan yang diperoleh diatur dan ditentukan oleh pimpinan Komisi V DPR. Menurut dia, hampir semua anggota Komisi V diberikan jatah aspirasi. Damayanti menyebut adanya suatu kesepakatan antara pimpinan Komisi V DPR dengan pejabat di Kementerian PUPR.

DPR Dukung Niat Damayanti Buka-bukaan Ungkap Kasus Suap | PT. Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Dalam tuntutan, JPU menuntut Damayanti dengan hukuman enam tahun dengan denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan. D‎alam pertimbangannya, majelis hakim menilai perbuatan Damayanti merusak demokrasi dan mencemarkan nama baik DPR serta menjadikan hubungan antara legislatif dan eksekutif tidak efektif.

PT. Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Anggota Komisi III DPR Arsul Sani mendukung niat mantan Anggota Komisi V‎ DPR dari Fraksi PDIP, Damayanti Wisnu Putranti untuk buka-bukaan dalam kasus suap proyek infrastruktur di wilayah Maluku dan Maluku Utara.

Arsul menjelaskan, sebuah peristiwa yang merupakan tindak pidana atau kejahatan korupsi harus diusut. “Siapapun dia yang diduga melakukan,” ungkapnya.

‎”Ya tentu kalau di Komisi III sebagai komisi hukum mempersilakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menegakkan hukum sesuai dengan fakta dan buktinya,” kata Arsul di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Menurut Arsul, KPK bisa menjadikan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagai pintu masuk membongkar kasus itu.

Diketahui, Damayanti ‎‎diganjar hukuman empat tahun enam bulan penjara dan denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan.‎ ‎Putusan ini lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK.

“Karena di putusan itu pasti ada fakta-fakta persidangan dan fakta persidangan itu tertuang dalam sebuah putusan. Maka itu bisa menjadi sebuah alat bukti, disamping alat bukti yang lain, yang lain itu apa? saksi, surat-surat atau dokumen,” paparnya.

PT Solid Gold Berjangka

 

Advertisements
This entry was posted in PT Solid Gold Berjangka Cabang Palembang and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s