Resolusi 2017, Dion Wiyoko Ingin Indonesia Lebih Damai

Beberapa hari lagi 2016 akan berganti tahun baru | PT Solid Gold Berjangka Cabang Makassar

 

PT Solid Gold Berjangka Cabang Makassar
Padahal, pemeran film Winter in Tokyo ini mengingat semasa kecilnya, Bhinneka Tunggal Ika selalu digaungkan di mana-mana dan dapat terlihat di pelbagai poster yang ditempel. Hanya saja setelah dewasa, itu terlihat menjadi hanya sebutan tempel saja, seakan tidak bermakna.

Awal tahun baru pun Dion berharap dengan film yang diperankannya The Last Barongsai dapat menyentil tentang keberagaman yang ada di Indonesia. Film yang tayang 26 Januari 2017 ini diharapkan dapat menjadi refleksi seputar makan yang terdapat dalam selogan Bhineka Tunggal Ika.

Dion mengaku saat ini memiliki perhatian lebih pada kondisi keadaan tanah airnya. Rasa sedih mengelayuti pikirannya melihat keadaan yang begitu menyesalkan karena banyak pertengkaran terjadi di mana-mana. “Saya sayang banget sama Indonesia dan menyayangkan kenapa Indonesia sekarang kayak gini,” kata pria berusia 31 tahun ini.

Dalam pandangan pemeran Aguan dalam film The Last Barongsai, akhir-akhir ini semboyan Bhinneka Tunggal Ika seakan hanya menjadi semboyan semata saja. Sedangkan semangat dan makna yang ingin disampaikan terlupakan begitu saja.

Beberapa hari lagi 2016 akan berganti tahun baru. Orang-orang siap dengan resolusi masing-masing untuk perubahan. Lantas apa keinginan Dion Wiyoko? Dion sendiri memiliki keinginan di tahun yang baru kondisi Indonesia lebih damai.

Dion Wiyoko Serius Belajar Main Barongsai | PT Solid Gold Berjangka Cabang Makassar

PT Solid Gold Berjangka Cabang Makassar
Daripada mendapatkan rasa sakit berlebih di tubuhnya, pemeran Winter in Tokyo ini lebih baik menyerahkan pada yang lebih ahlinya. Bahkan di tangan yang sudah ahli pun risiko cedera akan selalu ada ketika melakukan teknik barongsai.

Meski diliputi risiko tersebut, pria berusia 31 tahun ini mengaku tidak mundur begitu aja. Apalagi melihat pesan yang ingin disampaikan dari The Last barongsai begitu baik untuk kondisi negara yang sedang tidak stabil dalam masalah kebhinekaan.

“Saya ini mesti mempelajari barongsai, jadi saya belajar juga teknik-tekniknya,” kata pemeran Aguan itu. Mempelajari kebudayaan Tionghoa dilakoninya dengan serius. Dion menjajal beberapa teknis dasar dalam mengendalikan barongsai seperti kuda-kuda dan mengendalikan kepala untuk bisa menunjukan keseriusan yang tidak asal-asalan.

Dion mengakui memang ada beberapa adegan yang menggunakan peran pengganti karena barongsai bukan pertunjukan yang mudah. Ada beberapa teknik yang cukup ekstrim yang harus dilakukan oleh orang profesional.

Dion Wiyoko tidak bisa menghindari untuk mempelajari teknis bermain barongsai ketika memutuskan terlibat dalam film The Last Barongsai. Risiko sakit pun ditempuh untuk memberikan totalitas dalam berperan.

Dion Wiyoko Bangga Budaya Tionghoa Diangkat ke Film Layar Lebar | PT Solid Gold Berjangka Cabang Makassar

 

PT Solid Gold Berjangka Cabang Makassar
Mudah-mudahan jadi satu pilihan yang positif di film Indonesia. Di Imlek 2017 ini bisa banyak keluarga yang nonton film ini. Pengen tahu budaya barongsai ini seperti apa,” ucapnya.

Ketertarikan Dion Wiyoko juga karena alasan visi misi yang jelas dalam film ini. “Dari awal sih pas ditawarin ceritanya, saya lihat keseluruhan sih tertarik. Apalagi Karnos Film untuk membuat suatu proyek pengennya serius, nggak main2, terbaik, dan pas diceritain visi misinya,” imbuhnya.

“Kenapa produksi ini, panjang sekali. Tapi positif sekali. Dan saya akan malu kalau saya menolak proyek ini. Saya malah bangga banget ditawarin ikut kerjasama di film The Last Barongsai ini,” tandas Dion Wiyoko.

Menjadi perhatian tersendiri dari Dion adalah kesenian barongsai yang sudah menjadi tak menarik bagi etnis Tionghoa itu sendiri. Menurutnya, banyak pemain barongsai justru kalangan pribumi.

“Dengan bangga, ironisnya barongsai ini banyak yang memainkan bukan dari etnis Tionghoa. Malah kebanyakan lebih pribumi yang memainkan ini. Budaya ini sempat hilang, tapi akhir-akhir ini sempat naik lagi,” ujarnya.

Dion berharap film ini menjadi warna yang berbeda di perfilman Indonesia. Apalagi dari sisi cerita, film yang juga diperankan oleh Tyo Pakusadewo, Aziz Gagap, Rano Karno, Hengky Solaiman, dan lainnya itu sangat menarik.

Pasti, jelas dari judulnya aja The Last Barongsai. Ini mengangkat tentang budaya Barongsai ini. Satu kebanggaan om Rano dan keluarga, mas Karyo, mengangkat budaya etnis Tionghoa ini,” kata Dion Wiyoko di kawasan Cikajang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12).

The Last Barongsai menjadi judul film layar lebar yang kesekian kali bagi Dion Wiyoko. Namun, berbeda dengan film-film yang dibintangi sebelumnya, film ini begitu dibanggakannya. Pasalnya, ada budaya Tionghoa yang diangkat.

 

 

PT Solid Gold Berjangka

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s