Neraca Perdagangan Februari Diperkirakan Surplus

Tetap mewaspadai harga komoditas ke depan | PT Solid Gold Berjangka Cabang Jakarta

 

PT Solid Gold Berjangka Cabang Jakarta
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total ekspor non minyak dan gas Indonesia ke negeri Tirai Bambu itu sepanjang Januari mencapai US$1,5 miliar, atau 12,80 persen dari total nilai ekspor. Sementara itu, di posisi kedua, ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$1,43 miliar.

“Memang tidak ada cara lain selain mendorong hilirisasi industri, dan menarik sektor investasi di industri pengolahan,” katanya.

Sebagai informasi, neraca perdagangan pada Januari 2017 mengalami surplus sebesar US$1,40 miliar, dengan total nilai ekspor senilai US$13,38 miliar dan impor US$11,99 muliar. Surplus tersebut, merupakan yang terbesar sejak Januari 2014 secara bulan ke bulan.

“Harga komoditas akan bertahan berapa lama? Karena di bulan Maret ini, harga minyak sedang turun,” kata Bhima, melalui pesan singkatnya kepada VIVA.co.id, Jakarta Rabu 15 Maret 2017.

Selain dari harga komoditas, dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 6,5 persen tahun ini juga memberikan kekhawatiran akan berpengaruh terhadap permintaan dari negara tersebut. Sebab, China masih menjadi pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia.

Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2017 diperkirakan kembali mencetak surplus sebesar US$1 miliar, dengan proyeksi total nilai ekspor di kisaran US$12,5 miliar dan proyeksi impor di kisaran US$11 miliar. Proyeksi surplus tersebut, sedikit lebih rendah dari surplus Januari.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, surplus tersebut ditopang dari membaiknya harga komoditas pada Januari 2017. Namun, pemerintah harus tetap mewaspadai kondisi harga komoditas ke depan.

Neraca Perdagangan Diperkirakan Surplus USD1 Miliar di Februari | PT Solid Gold Berjangka Cabang Jakarta

Dirinya menilai, pertumbuhan ekspor merupakan dorongan dari mulai meningkatnya harga komoditas. Hal ini ditandai dengan kenaikan yang tajam pada ekspor batu bara dan minyak kelapa mentah (crude palm oil) sejak pertengahan 2016.

“Perhatikan ekspor barang nonmigas juga melonjak 18,3 persen pada kuartal IV-2015 dan menguat di 29,2 persen pada Januari 2017. Bahkan jika lonjakan kuat sekali saja di Januari, pertumbuhan ekspor sepanjang tahun masih bisa mencapai delapan persen. Ini merupakan pembalikan tajam harga komoditas,” kata Gundy, dalam risetnya, Rabu 15 Maret 2017.

Dampak pemulihan ekspor, lanjut dia, jelas sangat positif terutama untuk daerah penghasil komoditas untuk memulihkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tertinggal dalam beberapa tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) rencananya akan merilis kinerja perdagangan Indonesia di sepanjang Februari 2017. Adapun kinerja perdagangan diharapkan bisa terus mengalami perbaikan karena berperan penting terhadap aktivitas perekonomian Tanah Air.

Jelang pengumuman tersebut, Ekonom Bank DBS Gundy Cahyadi memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia di bulan kedua di 2017 akan mengalami surplus sebesar USD1 miliar. Menurutnya kinerja ekspor akan tumbuh 8,5 persen, sementara impor tumbuh 9,4 persen.

Surplus Neraca Dagang RI Februari Diprediksi Turun, Ini Sebabnya | PT Solid Gold Berjangka Cabang Jakarta

Bhima berpendapat, pemerintah perlu mewaspadai tren kenaikan harga komoditas. Alasannya, dia bilang, harga minyak dunia tengah merosot di Maret ini sehingga dikhawatirkan neraca perdagangan Indonesia pun akan terkontraksi.

Dirinya berharap, pemerintah dapat mengantisipasi kondisi tersebut dengan mendorong hilirisasi industri, dan menarik investasi di sektor industri pengolahan. Dalam jangka panjang, membuka alternatif pasar baru.

“Selanjutnya negosiasi tarif bea masuk dengan Sri Lanka, Chili, dan lainnya. Butuh waktu hingga bisa direalisasikan ke peningkatan ekspor, karena impor barang konsumsi luar biasa besar ke Indonesia, bukan impor bahan baku,” tandas Bhima.

( Baca : Bank Mandiri Optimistis Target Turunkan NPL Tercapai )

Lebih jauh dijelaskan Bhima, meski harga komoditas mengalami perbaikan sejak awal Januari lalu, penurunan surplus tidak terelakkan karena kontraksi dari permintaan China. Untuk diketahui, China memangkas pertumbuhan ekonomi 2017 menjadi 6,5 persen dari proyeksi sebelumnya 7 persen.

“Yang sedikit dicermati permintaan dari China karena mengkhawatirkan menyusul dipotongnya target pertumbuhan ekonomi China tahun ini yang di bawah 2016. Termasuk data Amerika Serikat sebagai tujuan ekspor tradisional mix,” dia menerangkan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi surplus neraca perdagangan Februari 2017 bakal merosot menjadi sekitar US$ 900 juta sampai US$ 1 miliar dibanding realisasi US$ 1,40 miliar di Januari ini. Penurunan tersebut akibat koreksi pertumbuhan ekonomi China yang menyeret ke bawah permintaan ekspornya.

“Ekspornya diprediksi sekitar US$ 11 miliar-US$ 12,5 miliar, sedangkan impor US$ 10,5 miliar-US$ 11 miliar. Jadi surplus sekitar US$ 900 juta-US$ 1 miliar didukung surplus non migas,” kata Bhima saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Rabu (15/3/2017).

 

 

Solid Gold Berjangka

Advertisements
This entry was posted in PT. Solid Gold Berjangka Cabang Jakarta and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s