Laba Bersih PLN 2016 Rp 10,5 Triliun

Penurunan laba bersih tersebut terjadi terutama karena PLN berusaha untuk terus memberikan tarif yang kompetitif | PT Solid Gold Berjangka

 

PT Solid Gold Berjangka
Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan keberhasilan PLN di tahun 2016 menambah kapasitas pembangkit sebesar 3.714 MW yang berasal dari Pembangkit PLN sebesar 1.932 MW dan tambahan kapasitas dari Independent Power Producer (IPP) sebesar 1.782 MW, serta menyelesaikan 2.859 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi dan Gardu Induk sebesar 14.123 MVA.

Terkait dengan setoran dividen ke pemerintah, PLN belum melakukan pembahasan terkait besarannya. “Belum, nanti kita putuskan dalam RUPS,” tutur Sofyan.

Mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) ini menyebutkan, pada tahun lalu perseroan telah menyetorkan dividen hampir Rp 4 triliun.

“Beban pajak kita pada 2016 Rp 5 triliun,” kata Direktur Utama PLN, Sofyan Basir di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (5/4/2017).

Nilai penjualan tenaga listrik PLN selama tahun 2016 mengalami kenaikan sebesar Rp 4,3 triliun atau 2,05 persen menjadi Rp 214,1 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 209,8 triliun.

Pertumbuhan penjualan ini berasal dari kenaikan volume penjualan menjadi sebesar 216 Terra Watt hour (TWh) atau naik 6,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 202,8 TWh.

PT PLN mencatatkan laba bersih tahun 2016 sebesar Rp 10,5 triliun. Pencapaian tersebut turun dibandingkan laba bersih 2015 yang sebesar Rp 15,6 triliun.

Penurunan laba bersih tersebut terjadi terutama karena PLN berusaha untuk terus memberikan tarif yang kompetitif bagi masyarakat dan dunia usaha.

Selain itu, PLN juga mengikuti tax amnesty untuk mendukung program pemerintah, sehingga beban pajak tahun 2016 meningkat cukup signifikan.

PLN Anggarkan Belanja Modal Rp 120 Triliun pada 2017 | PT Solid Gold Berjangka

Di 2014 mengalami penurunan menjadi 1.837 MW, namun pada 2015 meningkat menjadi 2.150 MW dan terus naik pada 2016 sebesar 3.714 MW.

Untuk transmisi, pada 2012 terbangun 2.080 kms, namun mengalami penurunan di 2013 menjadi sebesar 1.537 kms. Setelah itu pembangunan transmisi berangsur naik pada 2014 sebesar 1.925 kms, 2015 sebesar 2.016 kms dan 2016 mencapai 2.859 kms.

Sementara untuk gardu induk, pada 2012 terbangun 1.215 mva, 2013 sebanyak 2.810 mva, 2014 turun menjadi 2.600 mva, dan pada 2015 naik kembali 5.615 mva, serta capaian terakhir di 2016 sebanyak 14.123 mva.

“Kita ingin menjaga tren kemajuan proyek kelistrikan ini,” kata Sarwono di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (5/4/2017).

Berdasarkan catatan perseroan, di 2016 perseroan telah menambah kapasitas pembangkit sebesar 3.714 Megawatt (MW) yang berasal dari pembangkit PLN sebesar 1.932 MW dan tambahan kapasitas dari IPP sebesar 1.782 MW, serta menyelesaikan 2.859 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi dan gardu induk sebesar 14.123 mva.

Sementara untuk jumlah pembangkit selama 5 tahun terakhir, pada 2012 terbangun 1.482 MW, 2013 menjadi 2.138 MW.

PT PLN (Persero) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) di 2017 sebesar Rp 120 triliun. Capex tersebut akan digunakan untuk menambah transmisi, pembangkit dan gardu induk.

Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto mengatakan, penambahan transmisi, pembangkit dan gardu induk tersebut dilakukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi.

Sulit Kerek Rasio Listrik, Biaya Sambungan di Pelosok Aceh Rp 150 Juta | PT Solid Gold Berjangka

Sementara itu, Direktur Bisnis Regional Sumatera Amir Rosyidin mengatakan, tercatat masih ada 1.200 desa yang sudah teraliri listrik namun kondisinya masih minimal. Untuk meningkatkan kehandalan kelistrikan Sumatera, PLN menargetkan akan menambah 398 gardu induk di wilayah-wilayah desa terpencil. Tujuannya juga mengurangi biaya sambungan listrik ke daerah itu.

“Ini untuk mendekat ke desa-desa. Kalau tidak begitu, (biaya pemasangan listrik) satu pelanggan di pedalaman Aceh bisa Rp 150 juta karena di daerah terpencil,” ujarnya.

Ia menambahkan, desa-desa tersebut berada di area Nusa Tenggara Timur (NTT), pulau-pulau kecil di Sumatera, dan di Maluku serta Papua. Menurut Nicke, untuk meningkatkan efisiensi biaya maka PLN mengoptimalkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sesuai dengan energi primer yang ada di wilayahnya masing-masing.

Dengan begitu, target rasio elektrifikasi sekaligus rasio EBT dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017-2026, dapat tercapai.

Secara lebih rinci, Direktur Bisnis Region Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Machnizon Masri mengatakan, salah satu provinsi yang desanya paling banyak belum terlistriki adalah NTT. Jumlahnya sebanyak 1.200 desa.

PLN menargetkan, satu kabupaten di Flores Timur sudah akan mulai terlistriki tahun ini melalui program pembangunan pembangkit listrik di wilayah tersebut. “Bulan depan sudah lelang. Perkiraan Juli mulai pekerjaan sampai dengan November,” ujarnya.

Namun, Sofyan menekankan, masyarakat di desa tersebut tidak akan dikenakan biaya yang terlalu besar. Dana untuk menyambungkan listrik ke pedalaman akan diambil dari subsidi silang dengan pelanggan di kota besar, khususnya di Jakarta dan Pulau Jawa.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati mengatakan, hingga kini masih ada 2.510 desa yang sama sekali belum menikmati listrik. Penyebabnya, letaknya terpencil dan sulit terjangkau. Sementara itu, masih ada sekitar 11.300 desa yang sudah dialiri listri namun para pelanggannya hanya bisa menikmati listrik kurang enam jam dalam satu hari.

Nicke mengatakan, tantangan terberat PLN adalah melistriki desa-desa. “Rasio elektrifikasi tahun 2016 memang sudah mencapai sekitar 91 persen. Tetapi, sisanya ini justru yang paling sulit dilakukan,” ujarnya.

Pembengkakan biaya sambungan di desa pedalaman, seperti di pelosok Aceh tersebut, karena wilayah itu belum memiliki transmisi listrik. Alhasil, PLN harus menarik kabel atau membangun transmisi ke wilayah tersebut hanya untuk melayani satu desa yang mungkin hanya berisi 10 pelanggan.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menghadapi tantangan berat untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di desa-desa ataui daerah pedalaman di Indonesia. Untuk melistriki satu pelanggan saja, biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan di desa terpencil di Aceh saja bisa mencapai Rp 150 juta.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, terdapat perbedaan signifikan antara biaya yang dikeluarkan untuk sambungan listrik pertama pelanggan di desa terpencil dengan pelanggan yang berada di Jakarta atau Pulau Jawa. Pada umumnya, biaya yang harus dikeluarkan pelanggan untuk memperoleh sambungan listrik di Jakarta dan Pulau Jawa hanya sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta.

“Tapi di pedalaman Aceh mahal sekali, bisa mencapai Rp 150 juta,” ujar Sofyan saat konferensi pers kinerja PLN tahun 2016 di kantor pusat PLN, Jakarta, Rabu (5/4).

 

Solid Gold

Advertisements
This entry was posted in PT Solid Gold Berjangka and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s