Misbakhun Bela Pernyataan Jokowi yang Dikritik Kolumnis Asing

Jake menilai Jokowi mengutip data yang salah | PT Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

 

PT Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Menurut Misbakhun, membandingkan perekonomian Indonesia memang harus dengan negara-negara berkembang yang memiliki ukuran dan volume sama. “India dan Cina merupakan dua negara besar di Asia yang memang pantas diperbandingkan dengan size, volume dan karakter permasalahan ekonominya dengan Indonesia,” ujarnya.

Namun, membandingkan pertumbuhan ekonimi Indonesia dengan Laos, Bangladesh, Myanmar, Filipina dan Timor Leste dinilainya kurang tepat. Sebab, dari sisi ukuran dan volume juga berbeda jauh. “Karakter dan permasalahan ekonominya berbeda. Yang pantas sebagai perbandingan adalah negara-negara BRICS yang emerging market sehingga perbandingannya akan lebih sepadan akan memberikan penilaian yang lebih obyektif dan lebih adil,” kata dia.

Politikus Golkar itu lantas menyodorkan argumennya. Menurutnya, pernyataan Jokowi adalah untuk membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara-negara anggota BRICS, yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, Cina, Turki, dan Afrika Selatan. Misbakhun menyebut BRICS merupakan kelompok negara berkembang. Faktanya, kata dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang nomor tiga setelah India dan Cina.

Pengkritik Jokowi adalah Jake Van Der Kamp, kolumnis keuangan di South China Morning Post (SCMP). Jake menilai Jokowi mengutip data yang salah. Namun, anggota Komisi XI DPR M Misbakhun mengatakan, perdebatan soal peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia harus diakhiri.

“Karena yang disampaikan oleh Presiden Jokowi memang benar, benar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah nomor tiga di dunia,” kata Misbakhun dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Rabu (3/5).

Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi bulan-bulanan. Sebab, penyataannya yang menyebut Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik ketiga dunia dianggap sebagai klaim salah dan tak berdasar.

Di G20, Indonesia Memang Peringkat Tiga | PT Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

Di Asia, ada 13 negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan lebih tinggi dari capaian Indonesia yang sebesar 5,02 persen. Mereka adalah India (7,5), Laos (7,4), Myanmar (7,3), Kamboja (7,2), Bangladesh (7,1), Filipina (6,9), Tiongkok (6,7) Vietnam (6,2), Pakistan (5,7), Mongolia (5,5) , Palau (5,5), Timor-Leste (5,5) dan Papua Nugini (5,4).

Dia mengatakan, Indonesia sebagai negara berpenduduk padat dengan 261 juta orang memang tak bisa dibandingkan dengan negara diatas. Namun, PDB juga tak tepat jika menjadi acuan sebagai kinerja suatu negara.

“Dengan PDB Anda tidak mendapatkan keseimbangan akun neraca atau laba dan rugi perusahaan dan tidak ada catatan untuk akun tersebut. Yang Anda dapatkan adalah setengah dari laporan arus kas,” pungkas dia.

Penjelasan serupa juga diucapkan Menteri Sekretariat Kabinet Pramono Anung. “Yang disampaikan oleh Presiden Jokowi adalah nomor tiga di G20. Bukan di seluruh dunia. Jadi nomor tiga di G20 setelah India dan Tiongkok. Slide untuk presentasinya ada,” jelas dia.

Sebelumnya Jake Van Der Kamp mempertanyakan cara Presiden Joko Widodo menghitung laju pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui Produk Domestik Bruto (PDB), sebagai acuan pertumbuhan ekonomi, yang kerap disebut mencapai urutan tiga di dunia.

Teten tak mengetahui apakah Jokowi salah ucap atau tidak. Namun, dia menilai hal ini hanya salah paham semata.

“Slidenya sering disampaikan kok, di banyak kesempatan. Dan Indonesia nomor 3 di negara-negara G20,” jelas dia.

Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut laju pertumbuhan ekonomi Indonesia urutan tiga di dunia dikritik Kolumnis South China Morning Post Jake Van Der Kamp. Istana pun menekankan, yang dimaksud Jokowi adalah peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia bila dibandingkan negara G20.

“Indonesia menempati pertumbuhan ketiga setelah India dan Tiongkok. Indonesia itu dalam negara-negara G20. Itu tidak salah, bukan di seluruh dunia. Itu di G20,” kata Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki di Kompleks Istana, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu 3 Mei 2017.

Permalukan Indonesia, Presiden Jokowi Harus Minta Maaf | PT Solid Gold Berjangka Cabang Palembang

“Realitas ini harusya yang menjadi fokus pembenahan pemerintah bukan mengkampanyekan jangan percaya berita hoax namun saat yang sama malah mengatakan yang kurang benar, karenanya Geprindo berharap Jokowi dan tim ekonominya jangan sampai menyebarkan berita hoax, segera klarifikasi dengan jujur,” terang presiden Geprindo.

Menurutnya, klarifikasi sangat dibutuhkan agar tidak terjadi polemik yang mengganggu iklim investasi. Kepercayaan dari investor sangat berperan dalam keberlanjutan ekonomi sehingga kualitas pemimpin menjadi salah satu alasan investor menanamkan investasinya.

“Geprindo tak ingin Indonesia dijadikan bahan cemoohan di dunia Internasional karena pernyataan yang kurang tepat itu,” tandasnya.

“Geprindo mendesak pemerintah (Jokowi) untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, mengklarifikasi melalui tim ekonomi atau Menkeu. Jokowi harus mengganti tim ekonomi yang telah membuatnya dianggap konyol di forum internasional. Kekonyolan itu akan berdampak secara psikologis kepada rakyat. Bangsa-bangsa lain di dunia bisa saja mengatakan Indonesia sebagai bangsa pembual,” ujar Bastian, Rabu (3/5/2017).

Saat ini BUMN, lanjut dia tengah mengalami kerugian pada kuartal-I sebanyak 3 Triliun. Ekonomi lesu, tingkat pengangguran dan kemiskinan meningkat.

Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengklaim ekonomi Indonesia berada di deretan tiga teratas dunia setelah China dan India mendapat sorotan tajam dari mantan jurnalis South China Morning Post Jake van der Kamp. Bahkan kolomnis sekaligus analis ekonomi asal Belanda ini menyebut pernyataan Jokowi sebagai silly boasts (bualan konyol).

Kritik tajam Jake van der Kamp terhadap Jokowi itu pun akhirnya mendulang reaksi dari publik tanah air. Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P Simanjuntak menilai akibat pernyataan tak benar (hoax) tentang ekonomi Indonesia, Jokowi dianggap telah mempermalukan marwah Indonesia di mata dunia. Untuk itu dirinya menyarankan agar Jokowi meminta maaf kepada rakyat Indonesia.

 

 

Solid Gold Berjangka

About Tia Ratna

24 yrs old Executive Secretary Benetta Ramelet, hailing from Lakefield enjoys watching movies like Death at a Funeral and Netball. Took a trip to Archaeological Site of Cyrene and drives a McLaren M16C.
This entry was posted in PT Solid Gold Berjangka Cabang Palembang and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s