Penyesuaian Tarif Listrik Picu Inflasi

Sulsel mengalami inflasi bulanan sebesar 0,33% | PT Solid Gold Berjangka Pusat

 

PT Solid Gold Berjangka Pusat

Meskipun secara umum mengalami inflasi, namun kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar -0,31% (mtm) terutama didorong oleh penurunan harga cabai rawit, beras, ikan layang dan bawang merah.

Dengan Inflasi pada April 2017, maka inflasi tahun kalender dan tahunan Sulsel tercatat masing-masing sebesar 2,03% (ytd) dan 4,16% (yoy). Inflasi Sulsel secara tahunan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Nasional yang tercatat 4,17% (yoy).

“Paling tinggi 5 persen. Ini yang kita atur sedikian rupa lewat tim pengendali inflasi daerah,” terang Wiwiek.

Adapun Bank Indonesiaencatat perkembangan Inflasi Sulsel pada bulan April 2017, Sulsel mengalami inflasi bulanan sebesar 0,33% (mtm). Peningkatan inflasi terjadi pada semua komponen inflasi (inti, administered prices, dan volatile food).

Inflasi yang terjadi di Sulsel pada April 2017 terutama disebabkan oleh peningkatan harga kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,13% (mtm), kelompok sandang 0,46% (mtm), dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan (0,36%, yoy).

“Kondisi surplus saat ini untuk kebutuhan di bulan ramadan, tapi yang paling penting adalah proses distribusinya. Ini yang harus dipastikan kelancarannya. Fokusnya kami di sana bersama Pemprov Sulsel dan stakeholder terkait untuk menjaga inflasi di bulan ramadan,” terangnya.

Harapannya, lanjut Wiwiek, pengaturan tersebut bisa menekan inflasi sehingga secara kumulatif tahun ini inflasi bisa sesuai target diangka 4 persen plus minus 1.

“Pada tahap awal penyesuaian TDL di Januari ternyata Februari naik inflasinya. Maret deflasi karena dampak listrik tidak ada. April dampak dari penyesuain listrik muncul lagi. Untuk tahap ketiga baru berdampak di bulan Juni,” kata Wiwiek saat konferensi pers, Rabu (3/5/17) kemarin.

Menurutnya, pengaruh inflasi pada harga yang diatur pemerintah sulit dihindari. Sehingga fokus utama bank sentral adalah pada komponen inflasi volatile food. Utamanya kebutuhan pokok seperti beras, daging, ikan bandeng. Semuanya harus dipastikan ketersediaan stok dan kelancaran proses distribusi.

Tarif Dasar Listrik (TDL) golongan 900 VA yang kembali disesuaikan di bulan Mei ini diperkirakan akan menjadi pemicu kenaikan inflasi di bulan Ramadan mendatang. Pengaruhnya sangat sulit dihindari sebagai komponen inflasi yang diatur pemerintah.

Kepala Kantor Perwakilan Indonesia (KPw) BI Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat, menjelaskan, peningkatan inflasi pada bulan Juni bisa terjadi pada semua komponen inti yakni harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan yang tidak diatur (volatile food). Namun, komponen yang diatur pemerintah melalui penyesuaian harga TDL pada daya 900 VA tahap ketiga di bulan Mei akan berdampak menambah inflasi di bulan Juni.

Di Kobar, Harga Pasir dan Sayuran Picu Inflasi | PT Solid Gold Berjangka Pusat

Dipaparkannya, pemicu terjadinya inflasi yakni akibat kenaikan sejumlah komoditas diantaranya pasir sebesar 26,67 persen, tomat sayur 25,00 persen, bayam 20,00 persen, daging ayam ras 5,20 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,56 persen.

Selain itu Oo juga mengatakan, penghambat inflasi terjadi akibat penurunan harga cabai rawit sebesar -12,50 persen, ikan tongkol -8,49 persen, bawang merah -2,44 persen, telur ayam ras -1,72 persen, emas perhiasan 0,74 persen.

”Bisa dibilang inflasi Kobar lebih tinggi daripada di Kotim (Sampit) yang hanya sebesar 0,12 persen dan dan lebih rendah dibandingkan Palangka Raya yang mencapai 0,21 persen. Tapi dengan inflasi nasional, Kobar lebih tinggi, karena inflasi nasional bulan ini hanya 0,9 persen,”pungkasnya.

Dari data BPS, bulan April ini, Kabupaten Kobar mengalami inflasi sebesar 0,14 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 173,82, dari Maret menjadi 174,06 pada April kemarin.

Kepala BPS Kobar, Oo Suharto menjelaskan di bulan April terjadi inflasi sebesar 0,14 persen. Dan untuk laju inflasi tahun kalender sama dengan inflasi bulan April 2017 sebesar 1,51 persen, sedangkan laju inflasi year on year (April 2017 terhadap April 2016) sebesar 2,56 persen.

”Infasi bulan Maret sebesar 0,43 persen, bila dibanding dengan April yang hanya 0,14 persen maka bisa dibilang inflasinya turun. Tapi sebenarnya indeks harga masih naik dibandingkan sebelumnya, dan kenaikan itu jelas lebih kecil dibndingkan bulan Maret,”terangnya, Kamis (4/5) siang.

Perkembangan harga berbagai komoditas di Kota Pangkalan Bun, pada bulan April 2017 lalu mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnnya. Namun demikian, Badan Pusar Statistik (BPS) setempat mencatat, laju inflasi di bulan April tersebut mengalami penurunan dari inflasi bulan Maret.

Dua Bulan Lagi Akan Terjadi Puncak Inflasi. Begini Penjelasannya | PT Solid Gold Berjangka Pusat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, inflasi April 2017 yang hanya 0,09% sesuai dengan harapn pemerintah. Darmin yakin, kenaikan TDL awal bulan ini hanyalah bagian dari dampak pencabutan subsidi untuk pelanggan 900 VA. TDL itu hanya penyesuaian yang 900 VA dan yang lain tak naik, ucapnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebut, kenaikan TDL untuk pelanggan 900 VA tahap ketiga akan berdampak inflasi Mei dan Juni nanti. “Persentase pelanggan pra bayar 900 VA lebih rendah dibanding yang pasca bayar sehingga inflasi akan terasa Juni daripada Mei,” kata dia.

Meski inflasi naik, ia memperkirakan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya meski ada kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuannya bulan ini. Pelaku pasar juga telah memperhitungkan rencana kenaikan itu.

Menurutnya, kecukupan stok pangan sebelum puasa menjadi hal yang perlu diperhatikan pemerintah. Di sisi lain, kenaikan TDL dan bahan bakar minyak (BBM) juga perlu dicermati agar inflasi bisa terkendali. “Mei kami proyeksi inflasi0,35% karena awal puasa dan Juni bisa 0,67% karena puncak lebaran,” kata Bhima.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, deflasi pangan yang terjadi sejak Februari lalu bukan menjadi jaminan tidak terjadinya inflasi pangan di Mei dan Juni nanti. Sebab, puasa dan lebaran selalu memunculkan tren inflasi tinggi, terutama dari bahan pangan dan transportasi.

Seturut, Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandi juga memproyeksi, tekanan permintaan jelang puasa dan lebaran akan terjadi di akhir Mei ini dan puncaknya bakal terjadi pada Juni nanti. Selain itu, kenaikan TDL bulan ini dampaknya akan simultan sejak bulan ini hingga bulan berikutnya. “Saya memproyeksi inflasi Mei 2017 0,3% dan Juni 0,6%,” kata Eric.

Efek ke inflasi bakal lebih tinggi karena adanya dorongan kenaikan harga pangan saat puasa dan lebaran. Makanya, Lana memperkirakan inflasi Mei tahun ini mencapai 0,5%, lebih tinggi dari Mei tahun lalu yang tercatat 0,24%.

Adapun inflasi Juni sebesar 0,97%, proyeksi Lana, juga lebih tinggi dari Juni tahun lalu.”Kenaikan TDL di bulan Mei bisa mengganggu daya beli di tengah potensi kenaikan konsumsi saat lebaran dan kita bisa kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi,” tambah Lana.

Lana menjelaskannya, dampak kenaikan TDL bulan ini bakal lebih besar dibanding kenaikan TDL Januari dan Maret lalu. Kenaikan TDL sebagai konsekuensi pencabutan subsidi listrik pada tahap ketiga ini ada tiga kelompok pelanggan golongan 900 VA. “Jadi kenaikan tarif listrik ini sudah tahap ketiga pada kelompok masyatakat 900 VA sudah 100% tak ada subsidi lagi,” kata Lana kepada KONTAN, Selasa (2/5).

Menurutnya, efek kenaikan TDL terhadap inflasi akan dimulai pada bulan Mei ini akan tampak bagi pelanggan prabayar. Adapun efek bagi pelanggan pasca bayar di Juni.

Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, inflasi bulan Juni tahun ini bakal lebih tinggi dibandingkan inflasi di bulan yang sama tahun lalu yang tercatat hanya 0,33%.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, tingginya inflasi Juni mendatang bukan hanya karena momentum puasa dan lebaran tapi juga karena imbas kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang rencananya naik bulan Mei ini.

Bulan Juni mendatang nampaknya akan menjadi puncak inflasi di tahun ini, Momentum datangnya bulan Puasa dan Lebaran menjadi salah satu pemicu. Kondisi ini bakal diperparah dengan kenaikan tarif dasar listrik yang bakal naik lagi di Mei ini.

 

 

Solid Gold Berjangka

About Tia Ratna

24 yrs old Executive Secretary Benetta Ramelet, hailing from Lakefield enjoys watching movies like Death at a Funeral and Netball. Took a trip to Archaeological Site of Cyrene and drives a McLaren M16C.
This entry was posted in PT. Solid Gold Berjangka Pusat and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s