Tarif listrik sumbang inflasi Kota Solo di April 2017

Kota Surakarta mengalami inflasi sebesar 0,12 persen | PT Solid Gold Berjangka Pusat

 

PT Solid Gold Berjangka Pusat

Sebaliknya, sambung Bagus, untuk kelompok pengeluaran yang menghambat laju inflasi adalah kelompok bahan makanan yaitu turun 0,80 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau turun 0,81 persen.

“Dari enam kota di Jawa Tengah yang dihitung angka inflasinya pada April 2017 tercatat lima kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi di Kota Semarang sebesar 0,22 persen, diikuti Kota Tegal 0,19 persen, lalu Kota Solo, disusul Kota Kudus 0,05 persen, dan Kota Cilacap 0,01 persen. Sebaliknya Kota Purwokerto mengalami deflasi sebesar 0,04 persen,” bebernya.

Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga yaitu, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 1,01 persen. Kemudian kelompok sandang naik 0,20 persen, kesehatan naik 0,41 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,21 persen, dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,87 persen.

“Apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,15 persen, angka inflasi kota Solo periode ini cenderung naik. Adapun komoditas utama penyumbang laju inflasi adalah tarif dasar listrik mencapai 7,05 persen, disusul bawang putih yang memberi andil sebesar 0,25 persen,” kata dia, Rabu (3/5).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang April 2017 Kota Surakarta mengalami inflasi sebesar 0,12 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) 124,24 pada bulan Maret menjadi 124,39 pada bulan April ini.

Kepala BPS Kota Surakarta, R Bagus Rahmat Susanto mengatakan, laju inflasi secara year to year sebesar 3,15 persen. Sebab berdasarkan hasil survei terjadi kenaikan pada IHK.

Inflasi April 2017 di Level 0,09 Persen Terimbas Kenaikan Tarif Listrik | PT Solid Gold Berjangka Pusat

 

BPS merinci, kelompok pengeluaran bahan makanan mengalami deflasi hingga -1,13 persen dengan andilnya terhadap inflasi April 2017 sebesar 0,24 persen. Komoditas yang menyebabkan deflasi di antaranya adalah harga cabai merah dan cabai rawit.

Komoditas lainnya yang juga mendorong terjadinya deflasi di kelompok bahan makanan adalah bawang merah, beras, daging sapi, sayuran, dan minyak goreng. Meski begitu, BPS tetap mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai sejumlah komoditas bahan pokok yang masih menyumbangkan inflasi seperti daging ayam ras, tomat, bawang putih, dan jeruk.

“Jadi seperti yang terjadi saat ini, laju inflasi masih bisa ditahan dengan deflasi bahan makanan. Saya pikir, angka inflasi 0,09 persen baik sekali terutama kalau diingat bulan ini masuk Puasa,” ujar Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/5).

BPS juga merinci, dari 82 kota yang disurvei Indeks Harga Konsumen (IHK), 53 kota mengalami inflasi dan 29 kota sisanya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Pangkalpinang dengan nilai 1,02 persen. Sementara inflasi terendah dicapai Cilacap sebesar 0,01 persen. Sedangkan untuk deflasi, angka tertinggi tercatat di Singaraja sebesar 1,08 persen dan deflasi terendah terjadi di Manado dan Jakarta sebesar 0,02 persen. Artinya, inflasi komponen inti April 2017 sebesar 0,13 persen, dengan inflasi komponen inti tahun kalender sebesar 1,17 persen.

Suhariyanto menilai, sejak awal tahun pemerintah sudah memetakan risiko inflasi yang terjadi 2017 ini. Dengan adanya potensi kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah atau adminsitered prices seperti harga listrik dan BBM, maka pemerintah merasa perlu mengimbanginya dengan menjaga harga bahan pokok.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menjelaskan, tingkat inflasi pada April 2017 ini dianggap sudah sesuai target pemerintah untuk menjaga laju inflasi. Apalagi, kata dia, bila mengingat Mei ini sudah maasuk Bulan Puasa. Secara umum, BPS menyebutkan bahwa inflasi April 2017 lebih disebabkan oleh inflasi kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,93 persen. Namun, besarnya inflasi yang terjadi masih bisa ditahan oleh angka deflasi yang disumbang oleh kelompok pengeluaran bahan makanan, dengan angka deflasi -1,13 persen.

Kebijakan pemerintah dan perseroan untuk mengalihkan subsidi listrik golongan 900 Volt Ampere (VA) pada Maret 2017 ternyata masih memberikan imbas terhadap tingkat inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, pada April 2017 ini terjadi inflasi sebesar 0,09 persen secara bulan ke bulan dan 4,17 persen tahun ke tahun (yoy). Tingkat inflasi April ini naik tipis dibanding Maret 2017 lalu yang justru terjadi deflasi sebesar 0,02 persen.

Inflasi April 2017 Masih Terkendali | PT Solid Gold Berjangka Pusat

 

Deflasi terutama bersumber dari komoditas cabai merah, cabai rawit, bawang merah, beras, daging sapi, ikan segar, telur ayam ras, dan minyak goreng. Penurunan harga pangan terjadi seiring dengan melimpahnya pasokan karena panen raya. Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai sebesar 2,66% (yoy).

Peningkatan inflasi kelompok administered prices dan kelompok inti tertahan oleh kelompok volatile food yang pada April 2017 tercatat mengalami deflasi sebesar 1,26% (mtm), melanjutkan deflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,77% (mtm).

Inflasi inti bulan April 2017 tercatat sebesar 0,13% (mtm), sedikit meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,10% (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi kelompok ini adalah emas perhiasan, tarif pulsa ponsel, dan sewa rumah. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,28% (yoy).

Peningkatan inflasi administered prices terutama disebabkan kenaikan tarif listrik akibat penyesuaian tarif listrik tahap kedua untuk pelanggan pascabayar daya 900 VA nonsubsidi. Selain itu, inflasi administered prices juga didorong oleh penyesuaian tarif angkutan udara, harga bensin, dan rokok. Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai sebesar 8,68% (yoy).

Dikutip dari siaran pers Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Kamis (4/5/2017) disebutkan, Inflasi administered prices pada April 2017 mencapai 1,27% (mtm), atau meningkat dari bulan lalu yang sebesar 0,37% (mtm).

Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April 2017 mencatat inflasi sebesar 0,09% (mtm), meningkat dibandingkan bulan lalu yang mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm). Inflasi IHK terutama disumbang oleh inflasi komponen administered prices. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK hingga bulan April tercatat 1,28% (ytd) atau secara tahunan mencapai 4,17% (yoy).

 

 

 

PT Solid Gold Berjangka

 

Advertisements
This entry was posted in PT. Solid Gold Berjangka Pusat and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s