Biasa di Thailand, Kapal Pesiar Asing Kini Jajal IndonesiaPT Solid Gold Berjangka

Menyusul makin mudahnya aturan kapal pesiar bersandar di Indonesia | PT Solid Gold Berjangka

PT Solid Gold Berjangka
“Tahun ini Star Clipper akan melakukan perjalanan wisata di Indonesia sebanyak 20 paket trip dengan lama pelayaran rata-rata 7 hari dengan home port-nya di Bali, kapasitas penumpang maksimal 170 penumpang, ABK 72 orang dan sepertiganya dari Indonesia,” tuturnya.

Star Clipper sebelumnya mengoperasikan kapalnya selama beberapa tahun di Thailand untuk menjelajah destinasi wisata Bahari di Asia Tenggara.

Namun gencarnya publikasi dan daya tarik Indonesia membuat pihak perusahaan yang diwakili Direktur Operasi Mr Aleksander Beniek memutuskan beralih ke Indonesia sebagai uji coba.

Marsetyo juga menyebut bahwa setiap berkunjung ke Indonesia, kapal pesiar bertiang tinggi ini membawa sedikitnya 170 wisatawan mancanegara dalam satu kali perjalanan. Rata-rata lama pelayaran selama tujuh hari.

“Kalau untuk kapal cruise biasa sudah sering. Untuk kapal tiang tinggi, ini yang pertama kalinya, perusahaan ini memiliki armada kapal yang mengkhususkan kapal layar tiang tinggi (tall ships) berjumlah tiga kapal bernama Royal Clipper, Star Clipper dan Star Flyers,” ujar Marsetyo saat ditemui VIVA.co.id, Kamis malam, 11 Mei 2017.

Ketua Bidang II Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari, Marsetyo menyebutkan Star Clipper merupakan kapal pesiar dengan tiang tinggi yang merapat pertama kali di Indonesia

Wisata bahari Indonesia kini semakin dilirik wisatawan mancanegara, terlebih semenjak pemerintah mempermudah peraturan kapal pesiar asing masuk ke Indonesia.
Kali ini kapal Cruise Ship perusahaan Star Clipper mendatangkan salah satu kapalnya bernama Star Clipper. Mereka membawa turis ke Indonesia untuk berwisata bahari dari wilayah barat ke timur Indonesia yakni masuk dari Belitung Timur menuju Kepulauan Seribu, Jakarta, Madura, Labuhan Bajo lalu sampai di Wikelo NTT.

Inilah Kapal Layar Tiang Tinggi Pertama yang Sandar di Pelabuhan Indonesia | PT Solid Gold Berjangka

 

Posisi Indonesia juga sangat strategis. Letaknya ada tengah Asia dan Australia yang merupakan ‘growing market’” wisata kapal pesiar dan kapal layat terbesar saat ini. “Indonesia juga merupakan negara yang bisa dikunjungi kapal pesiar dan kapal layar sepanjang musim, kita siap didatangi setiap saat,” katanya.

Dalam satu tahun terakhir ini Kemenpar gencar melakukan promosi di ajang-ajang internasional dan interaksi intensif dengan para operator Cruise Ship. Keberadaan Tim Percepatan Pariwisata Bahari yang dibentuk Menteri Arief Yahya dan mengangkat Indroyono Soesilo sebagai ketua tim merupakan langkah strategis untuk meningkatkan jumlah wisman dengan target 20 juta wisman pada tahun 2019.

“Bila uji coba ini lancar, tidak ada regulasi yang memberatkan, kami yakin Indonesia akan menjadi pusat pengoperasian kapal-kapal kami untuk ASEAN. Saat ini yang sangat berpotensi masih Bali. Tapi kami sudah mendengar bahwa pembangunan-pembangunan Marina di Indonesia sudah digencarkan,” ujar Brunon.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengutarakan bahwa kapal layar tiang tinggi penting bagi pariwisata Indonesia. Selain mendatangkan wisman, spent money-nya sangat besar. Lenght of staynya juga panjang. “Kebetulan dua pertiga wilayah Indonesia merupakan perairan. Sangat ideal bagi wisata kapal pesiar dan kapal layar,” katanya.

Banyak sekali yang bertanya kenapa tidak dipusatkan di Indonesia saja. Bagi custumer kami, keindahan Indonesia baik itu alamnya, budayanya, dan makanannya sangat eksotis. Tidak kalah dengan negara lain di ASEAN,” kata Brunon.

Star Clipper sebelumnya mengoperasikan kapalnya selama beberapa tahun di Thailand untuk menjelajah destinasi wisata Bahari di ASEAN. Namun, atas permintaan banyak pelanggannya itu, pada tahun ini memutuskan untuk beralih ke Indonesia sebagai uji coba.

Aji menambahkam, yang menjadi sasaran utama kapal tall ships saat ini masih Bali, karena akses penerbangan internasional dengan kemudahan pemindahan penumpang dari pesawat ke kapal sejauh ini hanya di Bali yang favorit dan belum adanya insentif fiskal bagi lalu lintas barang logistik untuk kapal. “Belum lagi alur masuk ke pelabuhan yang relatif sulit dan dangkal, seperti Benoa, dan kurang lengkapnya peta laut di beberapa lokasi wisata merupakan tantangan,” katanya.

Namun kabar gembiranya, Kapten kapal Star Clipper, Brunon mengungkapkan, banyak customer perusahaannya yang menginginkan menjadikan Indonesia sebaggai HUB. Hal ini menurutnya, Indonesia tidak kalah indahnya dengan Thailand.

Dalam kesempatan sama, anggota Tim Percepatan Pariwisata Bahari Aji Sularso mengungkapkan, sejauh ini faktor-faktor yang selalu menjadi perhatian dan pertimbangan adalah masalah prosedur CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, Port Clearance) atau bea cukai, imigrasi, karantina, dan izin di pelabuhan. “Biaya ground handling, baik resmi maupun tidak resmi, yang terlalu tinggi dan lebih mahal daripada negara tetangga. Kami terus mengupayakan hal ini berkoordinasi dengan instansi lainnya agar dipermudah,” kata Aji.

Marsetio menambahkan, perusahaan yang menaungi kapal tersebut memliki armada kapal yang mengkhususkan kapal tall ships berjumlah tiga kapal bernama Royal Clipper, Star Clipper, dan Star Flyers. “Ketiga kapal ini nantinya akan rutin mendatangi Indonesia. Ini cukup bagus untuk menambah angka kunjungan wisman kita. Bila mereka melakukan 20 kali perjalanan selama setahun dengan tiga kapal, dikalikan 130 wisman, berarti 7800 wisman per tahun. Dan biaya yang mereka keluarkan selama di Indonesia itu antara USD 1200 sampai USD 1300 ,” kata Marsetio.

Apabila pada tahun ini pelayaran wisata cruise ship ini berjalan dengan sukses, pada tahun 2018 akan ditingkatkan jumlah klunjungannya dan tidak menutup kemungkinan akan mendatangkan kapal lain, seperti Royal Clipper, yang lebih besar.

Indroyono mengungkapkan, tahun ini Star Clipper akan melakukan perjalanan wisata di Indonesia sebanyak 20 paket perjalanan dengan lama pelayaran rata-rata 7 hari dengan pemberhentian (home port) di Bali.

“Kapal tersebut akan membawa sebanyak 130 penumpang wisatawan mancanegara untuk berwisata bahari dari barat ke timur Indonesia, masuk dari Belitung Timur menuju Kepulauan Seribu, Jakarta, Madura, Labuhan Bajo, sampai di Wikelo, Nusa Tenggara Timur,” ujar Indroyono.

Kapal layar tiang tinggi (Tall Ships) “Star Clipper” berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/5). Inilah kapal layar tiang tinggi pertama yang sandar di pelabuhan Indonesia. Saat sandar, kapal layar yang berangkat dari Thailand itu membawa 130 wisman.

“Kalau untuk kapal cruise biasa sudah sering. Untuk jenis kapal tiang tinggi, ini yang pertama kalinya. Selain Jakarta, mereka akan berada di Indonesia selama 16 hari. Semua penumpangnya berbelanja dan berwisata,” ujar Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kemenpar Indroyono Soesilo didampingi Ketua Bidang II Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Marsetio, Kamis (21/5).

Kapal layar tiang tinggi tiba di Jakarta | PT Solid Gold Berjangka

 

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata telah melakukan upaya-upaya konkret untuk mengatasi permasalahan dengan cara koordinasi intensif dan bekerja sama kementerian lain, seperti Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk masalah imigrasi, Kementerian Perhubungan untuk masalah kepelabuhanan; Kementerian Keuangan untuk masalah kepabeanan; Kemenko Maritim untuk masalah regulasi dan kebijakan umum.

Dalam waktu yang sama Kemenpar gencar melakukan promosi di ajang-ajang internasional dan interaksi intenisf dengan para operator Cruise Ship dan membuka dialog, konsultasi langsung.

Keberadaan Tim Percepatan Pariwisata Bahari yang dibentuk oleh Menteri Arief Yahya dan mengangkat Indrojono Soesilo sebagai ketua tim merupakan langkah strategis untuk meningkatkan jumlah wisman dengan target 20 juta wisman pada tahun 2019.

Aji menambahkam bahwa akses penerbangan internasional dengan kemudahan pemindahan penumpang dari pesawat ke kapal sejauh ini hanya di Bali yang favorit dan belum adanya insentif fiskal bagi lalu lintas barang logistik untuk kapal.

“Belum lagi alur masuk ke pelabuhan yang relatif sulit dan dangkal, seperti Benoa, dan kurang lengkapnya peta laut di beberapa lokasi wisata merupakan tantangan,” katanya.

Dalam kesempatan sama, anggota Tim Percepatan Pariwisata Bahari Aji Sularso mengatakan bahwa sejauh ini faktor-faktor yang selalu menjadi perhatian dan pertimbangan adalah masalah prosedur CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, Port Clearance) atau bea cukai, imigrasi, karantina, dan izin di pelabuhan.

“Biaya ground handling, baik resmi maupun tidak resmi, yang terlalu tinggi dan lebih mahal daripada negara tetangga,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Star Clipper sebelumnya mengoperasikan kapalnya selama beberapa tahun di Thailand untuk menjelajah destinasi wisata Bahari di ASEAN. Namun, pada tahun ini memutuskan untuk beralih ke Indonesia sebagai uji coba.

“Apabila pada tahun ini pelayaran wisata cruise ship ini berjalan dengan sukses, pada tahun 2018 akan ditingkatkan jumlah klunjungannya dan tidak menutup kemungkinan akan mendatangkan kapal lain, seperti Royal Clipper, yang lebih besar,” katanya.

Marsetyo mengatakan bahwa pada tahun ini Star Clipper akan melakukan perjalanan wisata di Indonesia sebanyak 20 paket perjalanan dengan lama pelayaran rata-rata 7 hari dengan pemberhentian (home port) di Bali.

“Kapasitas penumpang maksimal 170 penumpang, ABK 72 orang, dan sepertiganya dari Indonesia,” katanya.

Kapal tersebut akan membawa sebanyak 130 penumpang wisatawan mancanegara untuk berwisata bahari dari barat ke timur Indonesia, masuk dari Belitung Timur menuju Kepulauan Seribu, Jakarta, Madura, Labuhan Bajo, sampai di Wikelo, Nusa Tenggara Timur.

Perusahaan yang menaungi kapal tersebut memliki armada kapal yang mengkhususkan kapal layar taing tinggi (tall ships) berjumlah tiga kapal bernama Royal Clipper, Star Clipper, dan Star Flyers.

Kapal pesiar layar tiang tinggi perdana “Star Clipper” yang membawa wisatawan Indonesia tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis.

Ketua Bidang II Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Marsetyo saat ditemui di atas Kapal Pesiar Star Clipper tersebut mengatakan bahwa merapatnya kapal tiang tinggi ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia.

“Kalau untuk kapal cruise biasa sudah sering. Untuk kapal tiang tinggi, yang pertama kalinya,” katanya.

 

 

Solid Gold Berjangka

Advertisements
This entry was posted in PT Solid Gold Berjangka and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s