Bantu Tingkatkan Keselamatan Pelayaran, Jepang Bantu VTS Fase II

Jepang membantu Indonesia dalam proyek peningkatan vessel traffic systems | PT Solid Gold Berjangka Cabang Semarang

PT Solid Gold Berjangka Cabang Semarang

Proyek fase II ini meliputi pembangunan fisik berupa VTS Sensor Stations di Tanjung Medang dan Tanjung Parit, Repeater Stations di Tanjung Sair, Simpang Ayam dan Selincing serta VTS Sub Center di Dumai berikut pembangunan fasilitasnya seperti TS Sub Center di Dumai.

Kemudian pembangunan peralatan di Tanjung Medang, pembangunan Generator di Tanjung Medang dan Dumai serta Steel Tower untuk Radar dan Communication Device di Tanjung Medang, Tanjung Sair, Tanjung Parit dan Simpang Ayam.

“Jepang memiliki kepentingan untuk memastikan keselamatan dan keamanan kapal-kapal Jepang yang berlayar di sana. Jepang juga telah mengirimkan dua orang tenaga ahli untuk membantu. Selama ini memang Indonesia-Jepang memiliki sejarah kerja sama yang baik, sehingga saya berharap nanti akan ada kerja sama di bidang yang lainnya juga. Semoga apa yang sudah diberikan ini bisa dimanfaatkan dengan baik,” kata Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishi.

Pada bulan Maret 2006 dibangun VTS Center serta fasilitasnya dengan membangun VTS Center di Batam (proyek fase I) yang telah diselesaikan pada tanggal 31 Maret 2010.

Selanjutnya pemerintah Jepang melanjutkan proyek tersebut dengan proyek fase II yang dimulai pada bulan Oktober 2010 yang rampung pada tanggal 10 Juni 2016.

Kondisi perairan yang sempit dan dangkal, ditambah dengan padatnya lalu lintas kapal, baik kapal penumpang, kapal cargo ataupun kapal ikan yang menyeberangi jalur tersebut setiap harinya menimbulkan risiko bencana yang besar sehingga diperlukan peningkatan keselamatan dan keamanan pelayaran di wilayah tersebut,” jelas Tonny.

Hal ini yang mendasari pemerintah Indonesia untuk menerima dana bantuan hibah dari pemerintah Jepang sebagai salah satu pengguna jalur Selat Malaka dan Selat Singapura.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Laut A. Tonny Budiono mengatakan, Selat Malaka dan Selat Singapura merupakan salah satu kawasan laut Indonesia yang paling penting di Asia Tenggara. Jalur laut sepanjang 550 mil laut ini termasuk salah satu jalur paling sibuk sebagai jalur perdagangan internasional yang menunjang perekonomian dunia.

 

Jepang Hibahkan Sistem Lalu Lintas Pelayaran 1,43 Yen Miliar | PT Solid Gold Berjangka Cabang Semarang

Kerja sama yang telah dijalin sejak 2012 ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan teknik pengoperasian bagi para operator VTS melalui serangkaian pelatihan.

Sebagai salah satu hasil dari kerja sama teknis ini, saat ini VTS Batam telah memiliki 17 orang operator VTS yang memiliki sertifikasi sesuai Standar (IALA) V. 103.1 dan VTS Dumai sebanyak 18 orang VTS Operator sesuai Standard IALA V. 103.1.

Hingga saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan telah memiliki 21 VTS yang tersebar di seluruh Indonesia. Antara lain, Belawan, Teluk Bayur, Batam, Panjang, Palembang, Merak, Jakarta, Semarang, Surabaya, Benoa/Lombok Straits, Lembar, Pontianak, Batu Licin, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Bitung, Sorong, Bintuni, dan Dumai.

Seluruh VTS tersebut diklaim berfungsi untuk menyediakan bantuan kepada industri pelayaran dalam perairan yang sibuk dan mempunyai tingkat risiko yang tinggi.

Dengan selesainya Proyek VTS fase II, jangkauan menjadi lebih luas mencakup seluruh wilayah perairan Selat Malaka dan Selat Singapura sepanjang 550 mil laut mulai dari Horsburg sampai dengan Tanjung Medang.

“Kementerian Perhubungan telah mengoperasikan layanan VTS tersebut secara penuh dan langsung setelah serah terima dimaksud agar pengawasan kapal di Selat Malaka dapat dilakukan,” papar Tony.

Selain mendapatkan bantuan hibah untuk pembangunan fasilitas VTS, Indonesia juga memiliki kerja sama dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) dalam bidang peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam bentuk bantuan teknis untuk pengoperasian VTS.

Tonny menyebutkan bahwa proyek fase II ini meliputi pembangunan fisik berupa VTS Sensor Stations di Tanjung Medang dan Tanjung Parit, Repeater Stations di Tanjung Sair, Simpang Ayam dan Selincing serta VTS Sub Center di Dumai, dan pembangunan fasilitasnya.

Antara lain, VTS Sub Center di Dumai, pembangunan peralatan di Tanjung Medang, Pembangunan Generator di Tanjung Medang dan Dumai, serta Steel Tower untuk Radar dan Communication Device di Tanjung Medang, Tanjung Sair, Tanjung Parit dan Simpang Ayam.

Kondisi perairan yang sempit dan dangkal, ditambah dengan padatnya lalu lintas kapal, baik kapal penumpang, kapal kargo ataupun kapal ikan yang menyeberangi jalur tersebut setiap harinya menimbulkan risiko bencana yang besar, sehingga diperlukan peningkatan keselamatan dan keamanan pelayaran di wilayah tersebut,” ucapnya.

Alasan inilah yang mendasari pemerintah menerima dana bantuan hibah dari Pemerintah Jepang sebagai salah satu pengguna (user state) Selat Malaka dan Selat Singapura pada Maret 2006.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Laut A Tonny Budiono menuturkan, Selat Malaka dan Selat Singapura adalah salah satu kawasan laut Indonesia terpenting di Asia Tenggara.

Jalur Laut sepanjang 550 mil laut tersebut termasuk salah satu jalur paling sibuk sebagai jalur perdagangan internasional yang menunjang perekonomian dunia. Lebih dari 90.000 kapal dari berbagai negara dan sedikitnya 14.000 kapal dari Jepang melewati selat ini setiap tahunnya.

“Fasilitas tahap pertama masih dioperasikan secara baik karena kami bukan memberikan fasiltas saja, melainkan juga tenaga ahli,” imbuhnya.

Saat ini, 20 personel dari Dumai dan dua dari Batam telah terakreditasi sebagai tenaga operasional VTS sesuai dengan standar Otoritas Asosiasi Internasional Bantuan Maritim untuk Navigasi Mercusuar (IALA).

“Dengan proyek ini sebagai permulaannya, kami berharap, agar Indonesia dan Jepang dapat menciptakan hubungan kerja sama lainnya untuk menciptakan keamanan untuk industri penerbangan dan kereta api,” terang dia.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii bilang, Selat Malaka dan Selat Singapura memiliki tingkat risiko kecelakaan kapal yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan selatnya yang sempit dan memiliki dasar laut yang dangkal.

“Kerja sama di bidang VTS antara Indonesia dengan Jepang memiliki sejarah yang lama dan saat ini merupakan sistem VTS tahap kedua,” katanya.

Ishii menuturkan, kerja sama tersebut telah ditandatangai pada 7 November 2008 silam untuk fase I. Pembangunan tahap I dimulai pada 15 Desember 2009 dan selesai pada 31 Maret 2011, sedangkan untuk fase II dimulai pada 28 Maret 2014 lalu dan selesai 10 Juni 2016.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, kegiatan proyek fase II dilakukan guna meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran Selat Malaka dan Singapura. Diharapkan, proyek dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia dan pengguna jasa transportasi laut di Selat Malaka dan Selat Singapura.

“Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pemerintah Jepang yang terus konsisten meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura melalui bantuan hibah, berupa pembangunan VTS,” ujarnya, mengutip ANTARA, Senin (5/6).

Pemerintah Jepang menghibahkan sistem monitoring lalu lintas pelayaran oleh pelabuhan (Vessel Traffic System/VTS) fase II di Selat Malaka dan Selat Singapura senilai 1,43 miliar yen atau Rp172,4 miliar kepada pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan.

Jepang Bantu VTS Fase II untuk Bantu Tingkatkan Keselamatan Pelayaran | PT Solid Gold Berjangka Cabang Semarang

 

Proyek fase II ini mencakup pembangunan fisik berbentuk VTS Sensor Stations di Tanjung Medang serta Tanjung Parit, Repeater Stations di Tanjung Sair, Simpang Ayam serta Selincing dan VTS Sub Center di Dumai tersebut pembangunan fasilitasnya seperti TS Sub Center di Dumai.

Lalu pembangunan perlengkapan di Tanjung Medang, pembangunan Generator di Tanjung Medang serta Dumai dan Steel Tower untuk Radar serta Communication Piranti di Tanjung Medang, Tanjung Sair, Tanjung Parit serta Simpang Ayam.

” Jepang mempunyai kebutuhan untuk meyakinkan keselamatan serta keamanan kapal-kapal Jepang yang berlayar disana. Jepang juga sudah kirim dua orang tenaga pakar untuk menolong. Sampai kini memanglah Indonesia-Jepang mempunyai histori kerja sama yang baik, hingga saya mengharapkan kelak bakal ada kerja sama di bagian yang lain juga. Mudah-mudahan apa yang telah diberi ini dapat digunakan dengan baik, ” kata Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishi.

Hal semacam ini yang memicu pemerintah Indonesia untuk terima dana pertolongan hibah dari pemerintah Jepang jadi satu diantara pemakai jalur Selat Malaka serta Selat Singapura.

Pada bulan Maret 2006 di bangun VTS Center dan fasilitasnya dengan bangun VTS Center di Batam (proyek fase I) yang sudah dikerjakan pada tanggal 31 Maret 2010.

( Baca : Kemenhub Dapat Hibah Fasilitas VTS dari Pemerintah Jepang )

Setelah itu pemerintah Jepang meneruskan proyek itu dengan proyek fase II yang diawali pada bulan Oktober 2010 yang rampung pada tanggal 10 Juni 2016.

Disamping itu, Direktur Jenderal Perhubungan Laut A. Tonny Budiono menyampaikan, Selat Malaka serta Selat Singapura adalah satu diantara lokasi laut Indonesia yang paling utama di Asia Tenggara. Jalur laut selama 550 mil laut ini termasuk juga satu diantara jalur paling repot jadi jalur perdagangan internasional yang mendukung perekonomian dunia.

” Keadaan perairan yang sempit serta dangkal, ditambah dengan padatnya jalan raya kapal, baik kapal penumpang, kapal cargo maupun kapal ikan yang menyeberangi jalur itu sehari-harinya menyebabkan resiko bencana yang besar hingga dibutuhkan penambahan keselamatan serta keamanan pelayaran di lokasi itu, ” terang Tonny.

Disamping itu, Direktur Jenderal Perhubungan Laut A. Tonny Budiono menyampaikan, Selat Malaka serta Selat Singapura adalah satu diantara lokasi laut Indonesia yang paling utama di Asia Tenggara. Jalur laut selama 550 mil laut ini termasuk juga satu diantara jalur paling repot jadi jalur perdagangan internasional yang mendukung perekonomian dunia.

” Keadaan perairan yang sempit serta dangkal, ditambah dengan padatnya jalan raya kapal, baik kapal penumpang, kapal cargo maupun kapal ikan yang menyeberangi jalur itu sehari-harinya menyebabkan resiko bencana yang besar hingga dibutuhkan penambahan keselamatan serta keamanan pelayaran di lokasi itu, ” terang Tonny.

 

Solid Gold Berjangka

 

Advertisements
This entry was posted in PT Solid Gold Berjangka Cabang Semarang and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s